OpenOffice.org adalah sebuah paket aplikasi perkantoran berkode sumber terbuka (open source) yang dapat diperoleh secara gratis. Paket tersebut termasuk komponen-komponen pengolah kata (word processor), lembar kerja (spreadsheet), presentasi, ilustrasi vektor, dan gudang data (database). OpenOffice.org ditujukan sebagai saingan bagi Microsoft Office dan dapat dijalankan di atas berbagai platform, di antaranya Windows, Solaris, Linux, dan Mac OS X. OpenOffice.org mendukung standar dokumen terbuka untuk pertukaran data, dan dapat digunakan tanpa biaya.
OpenOffice.org dibuat berdasarkan kode dari StarOffice, sebuah office suite yang dikembangkan oleh StarDivision dan diakuisisi oleh Sun Microsystems pada Agustus 1999, yang kemudian diakuisisi oleh Oracle pada tahun 2010. Kode asal dari suite ini dilepas sebagai proyek sumber terbuka pada Juli 2000, dengan tujuan mendobrak dominasi pasar dari Microsoft Office dengan menyediakan pilihan yang berbiaya rendah, berkualitas tinggi, dan terbuka. Kode asal untuk suite aplikasi ini tersedia dibawah dua lisensi perangkat lunak yang berbeda: LGPL dan SISSl; dari versi 2.0, dia hanya tersedia di bawah LGPL.
Proyek dan perangkat lunak disebut sebagai "OpenOffice", tetapi pengatur proyek melaporkan bahwa istilah ini adalah sebuah merk dagang yang dipegang oleh kelompok lain, sehingga mengharuskan mereka mengambil "OpenOffice.org" sebagai nama resminya.
download disini..
Warbud Squad 031#
Senin, 14 Februari 2011
Senin, 07 Februari 2011
C-Generation
"C-Generation" Generasi Berbasis TIK Masa Depan
Kemajuan informasi teknologi telah mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dari sini muncul C-Generation, yaitu generasi baru melek teknologi yang sangat peka akan konektivitas, konvergensi, konten kreatif, kolaborasi, dan kontekstual. Nasib bangsa ini ke depan bergantung kepada mereka ini.
Untuk itu, selain upaya struktural melalui berbagai peraturan, diperlukan langkah strategis melalui berbagai pendekatan kultural untuk mengantarkan potensi generasi masa depan ke kelompok masyarakat yang bernilai dan kompetitif.
”Kalau generasi ini justru banyak mengambil sisi negatif (dari teknologi informasi komunikasi/TIK), yang terjadi justru kebangkrutan, inefisiensi, dan lost generation,” tutur Suhono Harso Supangkat, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika di sela-sela pengukuhan jabatannya sebagai guru besar bidang teknologi infokom dari ITB.
Ia mengatakan, di masa depan, dengan makin maraknya pemanfaatan broadband (internet berpita lebar), internet dan teknologi semakin berpengaruh terhadap perilaku sosial dan ekonomi masyarakat mulai dari anak-anak, pelajar, ibu-ibu rumah tangga, hingga birokrat pemerintahan.
Dalam orasinya, ia memperlihatkan dahsyatnya pengaruh internet dan produk turunannya, seperti situs jejaring sosial Facebook dan Friendster atau Youtube, yang memengaruhi hidup manusia—C Generation itu.
”Generasi ini menjadi bekal kemajuan bangsa di masa depan yang perlu dikelola, difasilitasi, dan diarahkan sehingga mampu bertransformasi menjadi masyarakat yang bernilai,” tutur Kepala Inkubator Industri dan Bisnis ITB ini.
Ia memandang pendekatan kultural melalui sarana pendidikan atau kompetisi pembuatan konten pendidikan ataupun kreasi seni perlu lebih digalakkan untuk bisa mengimbangi dampak negatif TIK. Ia pun mengusulkan dibentuknya suatu forum C-Generation yang terdiri atas berbagai unsur masyarakat untuk memformulasikan nilai-nilai itu.
Tulang punggung ekonomi
Jika berhasil dilakukan, ia melihat perkembangan TIK, khususnya broadband, bisa jadi tulang punggung ekonomi bahkan pengantar kemajuan bangsa ini.
”Dalam 10 tahun ke depan, kebutuhan akan akses broadband mencapai 120 juta pelanggan. Nilai ekonomi dari ekosistem ini Rp 300 triliun,” ujar Suhono.
Era broadband yang saat ini tengah dirintis melalui teknologi Wimax lalu menyusul LTE dan Serat Optik, menurut dia, adalah gelombang industri TIK generasi ketiga.
Berbeda dengan dua generasi sebelumnya, yaitu era satelit dan telepon seluler, ia optimistis Indonesia mampu berperan lebih banyak sebagai pemain ataupun tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi, aturan yang tengah dirumuskan mendorong penggunaan konten dan kandungan lokal. ”Jika 30-40 persen industri dalam negeri bisa bermain, ini bisa menjadi hal yang menggembirakan,” tuturnya. (jon)
Sumber: Kompas
Berjudul: "5K", Generasi Berbasis TIK Masa Depan
Sabtu, 28 Februari 2009http://trainerkita.blogspot.com/2009/02/c-generation-generasi-berbasis-tik-masa.html
E-Banking
Pengertian E - Banking
Electronic Banking, atau e-banking bisa diartikan sebagai aktifitas perbankan di internet. Layanan ini memungkinkan nasabah sebuah bank dapat melakukan hampir semua jenis transaksi perbankan melalui sarana internet, khususnya via web. Mirip dengan penggunaan mesin ATM, lewat sarana internet seorang nasabah dapat melakukan pengecekan rekening, transfer dana antar rekening, hingga pembayaran tagihan-tagihan rutin bulanan (listrik, telepon, dsb.) melalui rekening banknya. Jelas banyak keuntungan yang akan bisa didapatkan oleh nasabah dengan memanfaatkan layanan ini, terutama bila dilihat dari waktu dan tenaga yang dapat dihemat karena transaksi e-banking jelas bebas antrian dan dapat dilakukan dari mana saja sepanjang nasabah dapat terhubung dengan jaringan internet.
Untuk dapat menggunakan layanan ini, seorang nasabah akan dibekali dengan login dan kode akses ke situs web dimana terdapat fasilitas e-banking milik bankbersangkutan. Selanjutnya, nasabah dapat melakukan login dan dapat melakukan aktifitas perbankan melalui situs web bank bersangkutan.
E-banking sebenarnya bukan barang baru di internet, tapi di Indonesia sendiri, baru beberapa tahun belakangan ini marak diaplikasikan oleh beberapa bank papan atas. berkaitan dengan keamanan nasabah yang tentunya menjadi perhatian utama dari para pengelola bank disamping masalah infrastruktur bank bersangkutan.
Keamanan merupakan isu utama dalam e-banking karena sebagaimana kegiatan lainnya seperti di internet, transaksi perbankan di internet juga rawan terhadap pengintaian dan penyalahgunaan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.Oleh karena itu sebuah situs e-banking diwajibkan untuk menggunakan standar keamanan yang sangat ketat untuk menjamin bahwa setiap layanan yang mereka sediakan hanya dimanfaatkan oleh mereka yang memang betul-betul berhak. Salah satu teknik pengamanan yang sering dugunakan dalam e-banking adalah melalui SSL ( Secure Socket Layer ) maupun lewat protokol HTTPS (Secure HTTP )Sumber:http://h4nktrial.blogspot.com/2009/04/pengertian-e-banking.html
E-Government
Pengertian E-Government atau definisi E-Government adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis. Model penyampaian yang utama adalah Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business (G2B) serta Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik.
E-Learning
| E-Learning |
| Written by mayhoneys | |
| Friday, 17 October 2008 |
Istilah e-learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan:
e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:
e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.
Matthew Comerchero dalam E-Learning Concepts and Techniques [Bloomsburg, 2006] mendefinisikan:
E-learning adalah sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi. Karena ada keterbatasan dalam interaksi sosial, siswa harus menjaga diri mereka tetap termotivasi. E-learning efisien karena mengeliminasi jarak dan arus pulang-pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan media yang dapat diakses dari terminal komputer yang memiliki peralatan yang sesuai dan sarana teknologi lainnya yang dapat mengakses jaringan atau Internet.
Dari definisi-definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning (Wahono, 2005, p. 1).
Fitur E-learning
E-learning memiliki fitur-fitur sebagai berikut (Clark & Mayer, 2008, p. 10):
1. Konten yang relevan dengan tujuan belajar
2. Menggunakan metode instruksional seperti contoh dan praktek untuk membantu belajar.
3. Menggunakan elemen media seperti kalimat dan gambar untuk mendistribusikan konten dan metode belajar.
4. Pembelajaran dapat secara langsung dengan instruktur (synchronous) ataupun belajar secara individu (asynchronous)
5. Membangun wawasan dan teknik baru yang dihubungkan dengan tujuan belajar.
Elemen E-learning
Definisi e-learning memiliki beberapa elemen tentang apa, bagaimana, dan mengapa dari e-learning (Clark & Mayer, 2008, p. 10):
1. Apa. E-learning memasukkan baik konten, yaitu informasi, dan metode instruksional, yaitu teknik, yang membantu orang mempelajari konten belajar.
2. Bagaimana. E-learning didistribusikan melalui komputer dalam bentuk kalimat dan gambar. Pendistribusiannya dapat dalam bentuk asynchronous yang didesain untuk belajar secara individu dam dalam synchronous yang didesain dengan bimbingan dari instruktur secara langsung.
3. Mengapa. E-learning ditujukan untuk membantu pelajar mencapai tujuan belajarnya atau melakukan pekerjaannya.
Aspek Penting dalam E-learning
1. E-learning menciptakan solusi belajar formal dan informal. Salah satu kesalahan berpikir tentang e-learning adalah e-learning hanya menciptakan sistem belajar secara formal, seperti dalam bentuk kursus. Namun faktanya adalah saat ini 80% pembelajaran didapat secara informal. Banyak orang saat beraktivitas sehari-hari dan menghadapi suatu masalah membutuhkan solusi secepatnya. Dalam hal ini, e-learning haruslah memiliki karakteristik berikut: a. just in time –tersedia untuk pengguna ketika mereka membutuhkannya untuk menyelesaikan tugasnya. b. on-demand – tersedia setiap saat. c. bite-sized – tersedia dalam ukuran yang kecil agar dapat digunakan secara cepat.
2. E-learning menyediakan akses ke berbagai macam sumber pembelajaran baik itu konten ataupun manusia. Kesalahan lainnya dalam berpikir tentang e-learning bahwa e-learning hanya membuat konten saja. Sebenarnya e-learning adalah sebuah aktivitas sosial. E-learning menyediakan pengalaman belajar yang kuat melalui komunitas online pengguna e-learning. Karena manusia adalah makhluk sosial, jadi ada banyak kesempatan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi ilmu antara sesama pengguna e-learning.
3. E-learning mendukung sekelompok orang atau grup untuk belajar bersama. E-learning bukan aktivitas individu saja, tetapi juga mendukung sekelompok orang atau grup untuk belajar bersama, baik untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berbagi ilmu, dan membentuk sebuah komunitas online yang dapat dilakukan secara langsung (synchronous) atau tidak langsung (asynchronous).
4. E-learning membawa pembelajaran kepada pelajar bukan pelajar ke pembelajaran. Bentuk pembelajaran tradisional bahwa pelajar harus pergi keluar untuk mencari pembelajaran mereka sendiri. Sedangkan Model e-learning disebut juga Pull Model of Learning (Knight, 2005, p. 11).


Keuntungan Menggunakan E-learning
Keuntungan menggunakan e-Learning diantaranya sebagai berikut (Wahono, 2005, p. 2):
1. Fleksibel karena siswa dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan dengan tipe pembelajaran yang berbeda-beda.
2. Menghemat waktu proses belajar mengajar
3. Mengurangi biaya perjalanan
4. Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku)
5. Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas
Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan
Kelemahan Menggunakan E-learning
Kelemahan menggunakan e-learning diantaranya sebagai berikut (Rosenberg , 2006):
1. Karena e-learning menggunakan teknologi informasi, tidak semua orang terutama orang yang masih awam dapat menggunakannya dengan baik.
2. Membuat e-learning yang interaktif dan sesuai dengan keinginan pengguna membutuhkanprogramming yang sulit, sehingga pembuatannya cukup lama.
3. E-learning membutuhkan infrastruktur yang baik sehingga membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi.
4. Tidak semua orang mau menggunakan e-learning sebagai media belajar.
Arsitektur E-learning

Green Ict 2
Pemerintah Harus Siapkan Regulasi Green ICT
Tingkat pertumbuhan di sektor teknologi telekomunikasi dan informatika (Information and Communication technology/ ICT) yang begitu pesat, membuat pemerintah perlu segera merumuskan regulasi telematika hijau atau Green ICT.
Hal itu terungkap pada acara 'Workshop on Green ICT, Strategic ASEAN Policy: Promoting and Disseminating Green ICT Actions', yang diselenggarakan di Hotel Sari Pan Pacific, pada 26-27 Oktober 2010.
Menurut Ketua Pelaksana workshop, Dr Ing Eko Adhi Setiawan, selama ini sektor telematika menyumbang 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Pesatnya pertumbuhan sektor ini dikhawatirkan bakal meningkatkan emisi karbon dalam jumlah yang signifikan.
"Hingga 2008 saja, jumlah ponsel di seluruh dunia sudah lebih dari 4 miliar handset. Dan ini akan mengalami kenaikan yang sangat cepat," kata Eko, di sela-sela workshop. Apalagi perangkat-perangkat telekomunikasi yang telah mengadopsi teknologi 3G biasanya mengkonsumsi energi yang lebih besar ketimbang ponsel-ponsel generasi sebelumnya.
Selain itu, perangkat-perangkat yang baru juga cenderung aktif lebih lama (selalu on). Dan yang tak kalah mengkhawatirkan, limbah-limbah yang dihasilkannya pun akan mengancam lingkungan.
"Jadi, produk-produk telematika musti diupayakan untuk lebih ramah lingkungan dari tiga faktor, yakni cara pembuatannya, cara pemakaiannya, serta hasil limbah yang dihasilkannya," kata Eko.
Namun, ia menjelaskan, walaupun memiliki kontribusi terhadap emisi karbon, sebenarnya telematika juga memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon. "ICT bisa mengurangi emisi karbon hingga mencapai 20 persen," ujarnya.
Misalnya saja teknologi telekonferensi atau e-commerce, yang bisa mengurangi emisi dari sisi transportasi. Dan ini, juga bisa diterapkan ke berbagai bidang, tak cuma terbatas di sektor ICT saja.
Misalnya penerapan teknologi telematika untuk mengontrol emisi di industri-industri, sehingga ketika sebuah perusahaan bisa memantau ketika mereka sudah melampaui ambang emisi yang ditolerir.
Pada acara workshop dibahas berbagai isu terkait Green ICT. Acara yang diselenggarakan oleh ASEAN Telecommunications Senior Officials Meeting (Telsom), Kementrian Kominfo, dan Universitas Indonesia itu, bakal menyusun roadmap kebijakan Green ICT yang dihaapkan akan diterapkan di negara-negara ASEAN.
Workshop yang dibuka oleh Menkominfo Tifatul Sembiring itu juga dihadiri oleh 7 delegasi negara ASEAN, terdiri dari badan pemerintah, vendor, dan operator telekomunikasi.
Menurut Eko, sebenarnya pihak operator telekomunikasi sudah cukup antusias untuk bisa menerapkan Green ICT di perusahaan mereka. Buktinya, beberapa operator telah mengoperasikan beberapa menara BTS bertenaga surya. Namun, karena ketiadaan regulasi, maka inisiatif itu tak berlanjut.
Oleh karenanya, kata Eko, seharusnya pemerintah segera mempersiapkan regulasi Green ICT, dan memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan agar termotivasi untuk menerapkannya. "Misalnya saja dengan memberikan insentif pengurangan pajak atau dengan mempermudah izin, agar perusahaan-perusahaan akan terpacu."
Hal itu terungkap pada acara 'Workshop on Green ICT, Strategic ASEAN Policy: Promoting and Disseminating Green ICT Actions', yang diselenggarakan di Hotel Sari Pan Pacific, pada 26-27 Oktober 2010.
Menurut Ketua Pelaksana workshop, Dr Ing Eko Adhi Setiawan, selama ini sektor telematika menyumbang 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Pesatnya pertumbuhan sektor ini dikhawatirkan bakal meningkatkan emisi karbon dalam jumlah yang signifikan.
"Hingga 2008 saja, jumlah ponsel di seluruh dunia sudah lebih dari 4 miliar handset. Dan ini akan mengalami kenaikan yang sangat cepat," kata Eko, di sela-sela workshop. Apalagi perangkat-perangkat telekomunikasi yang telah mengadopsi teknologi 3G biasanya mengkonsumsi energi yang lebih besar ketimbang ponsel-ponsel generasi sebelumnya.
Selain itu, perangkat-perangkat yang baru juga cenderung aktif lebih lama (selalu on). Dan yang tak kalah mengkhawatirkan, limbah-limbah yang dihasilkannya pun akan mengancam lingkungan.
"Jadi, produk-produk telematika musti diupayakan untuk lebih ramah lingkungan dari tiga faktor, yakni cara pembuatannya, cara pemakaiannya, serta hasil limbah yang dihasilkannya," kata Eko.
Namun, ia menjelaskan, walaupun memiliki kontribusi terhadap emisi karbon, sebenarnya telematika juga memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon. "ICT bisa mengurangi emisi karbon hingga mencapai 20 persen," ujarnya.
Misalnya saja teknologi telekonferensi atau e-commerce, yang bisa mengurangi emisi dari sisi transportasi. Dan ini, juga bisa diterapkan ke berbagai bidang, tak cuma terbatas di sektor ICT saja.
Misalnya penerapan teknologi telematika untuk mengontrol emisi di industri-industri, sehingga ketika sebuah perusahaan bisa memantau ketika mereka sudah melampaui ambang emisi yang ditolerir.
Pada acara workshop dibahas berbagai isu terkait Green ICT. Acara yang diselenggarakan oleh ASEAN Telecommunications Senior Officials Meeting (Telsom), Kementrian Kominfo, dan Universitas Indonesia itu, bakal menyusun roadmap kebijakan Green ICT yang dihaapkan akan diterapkan di negara-negara ASEAN.
Workshop yang dibuka oleh Menkominfo Tifatul Sembiring itu juga dihadiri oleh 7 delegasi negara ASEAN, terdiri dari badan pemerintah, vendor, dan operator telekomunikasi.
Menurut Eko, sebenarnya pihak operator telekomunikasi sudah cukup antusias untuk bisa menerapkan Green ICT di perusahaan mereka. Buktinya, beberapa operator telah mengoperasikan beberapa menara BTS bertenaga surya. Namun, karena ketiadaan regulasi, maka inisiatif itu tak berlanjut.
Oleh karenanya, kata Eko, seharusnya pemerintah segera mempersiapkan regulasi Green ICT, dan memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan agar termotivasi untuk menerapkannya. "Misalnya saja dengan memberikan insentif pengurangan pajak atau dengan mempermudah izin, agar perusahaan-perusahaan akan terpacu."
Green Ict
First Green ICT Conference In Indonesia
Posted April 16, 2010 by Prima Bintang Bahtera in ICT World, Let's Go Green. Tagged: Computer, Environment, ICT
Pada tanggal 8 April kemarin saya diberi tugas dari kantor untuk mengikuti sebuah seminar yang mengambil tema Green ICT. Acara ini digelar di JCC (Jakarta Covention Center) dan diprakarsai oleh Inixindo, majalah Info Komputer, dan Himals4 (Himpunan Alumni SMU 4). Tema yang diambil sangat menarik, mengingat usia bumi kita yang sudah semakin tua, dan menuntut perhatian lebih dari kita. Kerusakan lingkungan yang sebenarnya diakibatkan oleh ulah kita pula ini sudah mencapai taraf yang memprihatinkan. Yang menjadi pemicu utama terjadinya kerusakan lingkungan salah satunya adalah proses industrialisasi.Yang membanggakan adalah bahwa bangsa ini (Indonesia) telah mulai memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya untuk menjaga lingkungan dari kerusakan yang lebih parah. Pemikiran semacam ini jika dibandingkan negara lain yang lebih maju, maka negara kita patut berbangga, karena meskipun perkembangan teknologinya “agak” tertinggal, tapi kesadaran semacam ini muncul lebih dini. Seperti Amerika Serikat misalnya, setelah berpuluh-puluh tahun (bahkan seabad mungkin) mengalami proses industrialisasi, isu mengenai lingkungan baru muncul sekitar 2 dekade terakhir. Sedangkan Indonesia, yang baru saja mulai mengenal dan akan mengikuti perkembangan teknologi, sudah mulai memikirkan isu mengenai lingkungan ini. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah pemikiran ini akan diikuti dengan penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari?
Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara yang berbobot, antara lain :
- Budi Raharjo, PhD (IndoCISC/ITB)
- Prof.Dr.Ing. Kalamullah Ramli M.Eng (Staf Ahli Menkominfo)
- Edi Taslim (GM Business KOMPAS.com)
- Lambok H. Hutahuruk (Deputy Chairman for Evaluation and Legal Advisory BP Migas)
- Marzan A Iskandar (BPPT)
- Ian James Tolond (excom Australia/CompTIA)
Dan masih banyak lagi pembicara-pembicara yang lain yang mewakili beberapa corporatebesar, seperti HP, APC, Symantec, Compnet, Vmware, Eaton, Softnet, Microsoft, Cisco, dan NetApp.
Dari sekian pembicara yang saya sebutkan di atas, terlihat bahwa semua pembicara berasal dari berbagai lini dan memiliki peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai regulator, pengelola sumber energi, penyedia hardware, penyedia software, dan penyedia jasa pelatihan dalam hal manajemen lingkungan.
Seminarnya sendiri di buka dengan pemaparan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dilanjutkan dengan uraian oleh Bapak Lambok H. Hutahuruk dari BP Migas. Beliau memaparkan bahwa di Indonesia, pertumbuhan ICT pada tahun 2007 telah mencapai 40%. Pertumbuhan yang pesat ini berdampak pada penyerapan sumber daya energi yang besar. Proses manufacturing juga menghasilkan banyak limbah elektronik atau yang dikenal dengan istilah e-waste.
Yang mencengangkan adalah dari 100% energi yang dihasilkan dari dalam bumi, 65 -70% hilang sebagai panas, sekitar 5-8% hilang selama proses pendistribusian, dan hanya sekitar 22-30% yang sampai ke end user. Bisa dibayangkan betapa banyaknya energi yang terbuang sia-sia untuk menyalakan PC Anda di rumah.
Selanjutnya, pemaparan dilanjutkan oleh Bapak Marzan A. Iskandar dari BPPT. Beliau banyak menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang sudah dilakukan dan akan dilakukan oleh BPPT dalam rangka penerapan teknologi yang ramah lingkungan.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan para pembicara dari berbagai Corporate dan Instansi pemerintah yang diwakili oleh BPPT. Masing-masing pembicara menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan Green ICT sesuai dengan bidang mereka. Diskusi ini dipandu oleh Bapak Teddy Sukardi, selaku Ketua Asosiasi Penyedia Jasa Layanan Internet Indonesia. Sangat menarik, karena kita bisa mengerti bagaimana mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan melalui berbagai aspek.
Setelah makan siang, Seminar dilanjutkan kembali namun dalam 5 track/panel yang berbeda dan secara paralel. Masing-masing panel memiliki topik yang sangat menarik. Saya sendiri mengikuti di panel yang membahas masalah virtualisasi server, penerapan Green ICT di lingkungan kerja, serta Strategi penerapan Green ICT secara umum.
Dan di akhir acara, seperti biasa diadakan pengundian door prize yang memperebutkan Netbook, Blackberry Gemini, dan Voucher Seminar Inixindo senilai 2 juta rupiah. Sayangnya, tidak ada satupun yang bisa saya dapatkan, yah, mungkin memang belum rezeki saya.
Demikian cerita singkat (singkat gak ya???) saat mengikuti Seminar Green ICT yang lalu. Semoga bisa bermanfaat. Dan untuk topik Green ICT nya sendiri akan di publish dalam postingan-postingan selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)